Type something and hit enter

zoelk.com
On
Hongkong Youtube

Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan imajinasi; dan hebatnya imajinasi tersebut biasanya akan tetap terpelihara bahkan hingga kita mencapai usia dewasa. Hanya saja terkadang imajinasi kanak-kanak kita kadang dibiarkan terbang dan hilang begitu saja bersama bilangan usia yang semakin banyak.

Padahal, jika kita sedikit saja mau mengumpulkan imajinasi-imajinasi kanak-kanak kita, maka bukan tidak mungkin, akan lahir buku-buku yang luar biasa. Sebutlah misalnya, Chris Colfer, peraih piala Golden Globe 2011 untuk kategori Best Supporting Actor in a Series karena perannya yang ciamik di film Glee berhasil membuat buku The Land of Stories: The Wishing Spell. Buku yang disebutnya berasal dari imajinasi saat ia kecil akibat kebiasaannya membaca buku.

Menurut saya, menghidupkan imajinasi kanak-kanak kita adalah sumber bahan tulisan untuk menggarap segmen buku anak dan remaja. Mengapa buku anak dan remaja? Buku anak merupakan salah satu tema buku yang sangat laris di Indonesia. Berdasarkan data penjualan buku terlaris Gramedia 2013, Buku anak terjual lebih dari 10,9 juta. Angka ini jauh mengungguli buku religi yang berada di urutan kedua yang terjual sebesar 3,7 juta. (Newsletter IKAPI vol. 1. Thn 1 Februari 2014).



Buku Self Publishing untuk Anak/Remaja


Buku anak dan remaja menurut saya, juga sangat potensial untuk dijual secara self publishing. Salah satu alasannya adalah besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia.  Harus diakui, penjualan buku self publishing masih sangat tergantung secara online—tentu saja selain dengan menggelar acara-acara offline.

Sebuah hasil riset Kementerian Komunikasi dan Informatika yang didanai UNICEF baru-baru merilis data bahwa tak kurang dari 30 juta anak dan remaja Indonesia adalah pengguna internet. Jumlah ini tentu saja didominasi oleh yang berada di perkotaan.  Riset ini mengambil responden dari anak dan remaja berusia 10-19 tahun.

Ini tentu sebuah pasar besar apabila kita membuat buku anak/remaja secara self publishing dan memanfaatkan media online sebagai media penjualan dan juga branding. Hanya saja, sejauh yang saya ikuti, masih belum maksimalnya penulis self publishing memanfaatkan internet sebagai jalur pemasaran buku mereka. Kebanyakan hanya mengandalkan akun pribadi mereka dan itupun sekadar mengumumkan saja.

Padahal kita bisa saja meniru penerbit-penerbit besar dan penulis besar yang bahkan membuatkan blog khusus untuk karya mereka. Membuat social media khusus dan betul-betul menjalin komunikasi aktif dengan pembacanya. Semoga suatu waktu kelak ada yang melakukannya dengan maksimal.

Dari kedua hal tersebut diatas bahwa buku anak/remaja merupakan buku yang memiliki peminat besar dan juga besarnya jumlah pengguna internet dari kalangan anak-anak dan remaja, tentu saja merupakan peluang besar untuk menggarap buku bertema anak dan remaja.

Lalu dari mana ide penulisan buku anak dan remaja? Mari kita kembali ke imajinasi kanak-kanak kita. Mari terinspirasi dari cerita-cerita yang pernah mengisi kehidupan kecil kita. Mari mengumpulkan kembali keping-keping keriangan dan kegembiraan anak-anak dan remaja. Lalu kita kumpulkan dalam lembaran-lembaran buku.  Seperti yang saya tulis di judul tulisan ini, bahwa pengalaman masa kecil kita adalah inspirasi besar sebuah tulisan.

Selamat menulis!



Naskah ini pertama kali diterbitkan dalam Majalah Nouvalitera Edisi Perdana yang diterbitkan oleh Leutika Books dengan judul Children Memory, a Valuable Treasure.

Click to comment