Type something and hit enter

zoelk.com
On
Hongkong Youtube

Ketika pertamakali mendengar peresmian museum Multatuli tahun 2018 lalu, saya termasuk orang yang sangat bergembira bahkan menantikan pembukaan museum ini. Karena itu, saat ada rencana perjalanan ke Rangkasbitung, masuklah agenda berkunjung ke Museum Multatuli ke dalam daftar rencana perjalanan.

Museum Multatuli Lebak Banten sangat mudah dijangkau karena berada di tengah-tengah kota Rangkasbitung, persis di seberang alun alun Rangkasbitung.

Buat Anda yang menggunakan kereta ke Rangkasbitung, Anda bisa ke Museum Multatuli menggunakan ojek, becak ataupun angkutan kota dari Stasiun Rangkasbitung.

Kami tiba di museum Multatuli tepat jam 12.00 siang. Dan museum ini tutup setiap jam 12.00 - 13.00. Jadi pastikan saat datang, tidak berbenturan dengan jam istirahat.

Sambil menunggu, kita bisa beristirahat di warung kecil yang ada di samping museum. Iseng ngecek ke aplikasi gofood, ternyata ada kafe tak jauh dari museum, tetapi saat ke sana rupanya juga tutup.

Ada mushollah yang juga bisa digunakan di kawasan museum Multatuli. Perlu diketahui, museum Multatuli satu kawasan dengan perpustakaan daerah yang diberi nama perpustakaan Saidjah dan Adinda. Untuk Anda yang pernah membaca Max Havelaar, nama Saidjah dan Adinda tentu tidak asing lagi karena kisah mereka ada di buku Max Haveelar. 

Sayang sekali, untuk bangunan yang masih tergolong baru direnovasi dan cukup megah, dengan banyak anak muda, toiletnya tidak dirawat.

Soal anak muda di Museum Multatuli serta Perpus Saidjah dan Adinda saya sangat kaget. Jarang-jarang ada perpustakaan yang diramaikan anak muda yang sebagain besarnya anak sekolah. Menurut saya, seharusnya ini potensi besar untuk pengelola museum dan perpustakaan.

Oh yah, soal anak muda yang ramai di sekitar Museum Multatuli menurut saya seharusnya dimanfaatkan dengan baik oleh pengelola museum untuk menggelar berbagai event. Sayang sekali, saya hanya mendegar banyak event soal Multatuli digelar di Museum hanya pada tahun-tahun awal museum berdiri.

Sebagai buktinya, kita bisa melihat di media sosial Museum Multatuli yang sudah tidak aktif lagi dalam beberapa bulan terakhir.

Padahal menurut saya, alangkah indahnya jika anak-anak muda tersebut diberdayakan untuk aktif menghidupkan museum dan juga perpustakaan.

Ada apa di dalam Museum Multatuli?

Sebagai sebuah museum yang menggunakan nama Multatuli, harapan saya kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang kehadiran Deuwes Dekker di Banten, atau mungkin berbagai koleksi seputar karya Deuwes Dekker lainnya selain Max Havelaar atau paling tidak berbagai diorama yang menggambarkan peristiwa yang ada di buku Max Havelaar.

Sayangnya, saya tidak banyak menemukan hal tentang Multatuli di Museum yang menggunakan namanya tersebut.

Malah dipajang koleksi hasil bumi seperti pala, lada atau kopi yang menurut saya tidak terlalu penting. Bagian yang agak menarik hanya pada bagian yang memajang buku Max Havelaar dalam bahasa Belanda.

Museum ini, menurut saya isinya 55% tentang Multatuli, dan 35% tentang tokoh Lebak Banten lainnya, dan sisanya hal-hal yang tidak terlalu berkaitan dengan dua hal tersebut.

Saya berharap, pengelola Museum terus mengembankan isi museum hingga benar-benar pengunjung museum mendapatkan informasi yang cukup banyak tentang Multatuli.

Anda bisa menonton video kami di Museum Multatuli pada lama youtube kami.
  

Click to comment